Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

China Minta Tolong Indonesia Penuhi Kebutuhan Masker Untuk Negara China




Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun memastikan hubungan dagang antara Indonesia dan China belum terganggu di tengah penyebaran virus corona. Kondisi terkini, menurut dia, justru sebaliknya. Salah satunya dipicu oleh peningkatan kebutuhan masker di Negeri Tirai Bambu.

"Permintaan masker ke Indonesia juga meningkat signifikan. Beberapa pengusaha dari China sudah menghubungi pengusaha di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masker," ujar Djauhari saat berbincang dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Selasa (28/1/2020).

Dalam kesempatan itu, Ia memastikan kondisi WNI di Wuhan, China, dalam kondisi aman. KBRI pun terus menjamin pasokan logistik kepada 100 orang WNI di ibu kota provinsi Hebei tersebut.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang tahun lalu, China tetap merupakan negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$ 25,85 miliar. Disusul Amerika Serikat dengan nilai US$ 17,68 miliar dan Jepang US$ 13,75 miliar.

Terpisah, ekonom senior dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Mari Elka Pangestu menilai penyebaran virus corona telah berdampak kepada sektor pariwisata di Negeri Tirai Bambu.

"Karena mereka intinya susah keluar dan negara yang menerima juga sangat ketat terhadap ini karena sangat takut mengenai penyebarannya. Jadi ini mungkin yang akan kelihatan pertama dampak ke pariwisata. Kalau barang sih saya lihat belum kelihatan," katanya.

Kendati demikian, lanjut Marie, berkaca pada saat virus SARS mewabah pada 2002-2003 silam, nilai perdagangan antara Indonesia dan China sempat terkontraksi.

Kala itu, dengan tidak beroperasinya perusahaan-perusahaan manufaktur, ekspor dan impor China terhambat. Kondisi tersebut kemudian berdampak bagi negara-negara yang mengekspor produk ke China, termasuk Indonesia.

Dalam buku Innovation in Global Health Governance: Critical Cases karya Andrew F Cooper, disebutkan, wabah SARS merugikan industri pariwisata dan ritel di China masing-masing sebesar 20 miliar Yuan dan 3,5 miliar Yuan pada 2003. 

Selama wabah itu merebak, 110 negara dari 164 negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan China mengeluarkan larangan penerbangan menuju China.

"Waktu SARS itu sangat terpengaruh kepada barang. Tapi ini mudah-mudahan mereka (China) bisa setop sebelum menyebar lebih luas. Jadi sebetulnya banyak yang apresiasi yang dilakukan China saat ini dibandingkan waktu SARS," kata Marie yang juga mantan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif tersebut.

B3eFmaster
B3eFmaster CYBER