Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Akhirnya Ilmuan AS dan Rusia Temukan Cara Selamat Dari Hari Kiamat




Para ilmuwan Amerika Serikat (AS) dan Rusia berupaya menemukan cara agar lolos dari kiamat. Yang dimaksud kiamat di sini adalah ketika dua negara yang berseteru sejak Perang Dingin ini menggunakan senjata nuklir untuk memulai perang. Salah satunya doomsday plane atau pesawat kiamat.

AS punya Boeing EC-135C Looking Glass dan E-6B Mercury, serta Rusia bangga dengan Il-80 Maxdome dan Il-96-400. Ini adalah pesawat yang akan digunakan oleh presiden, baik AS atau Rusia, ketika terjadi kasus darurat terutama serangan nuklir dimulai.

Selain itu doomsday plane siap beroperasi jika terjadi ledakan asteroid maupun serangan teror skala tinggi. Pesawat kiamat ini mampu terbang selama berhari-hari tanpa pengisian bahan bakar. Mengapa hanya AS dan Rusia, karena dua negara inilah yang memiliki kemampuan menciptakan doomsday plane hingga saat ini.

Berdasarkan data yang diolah VIVA, Senin, 3 Februari 2020, ketika fasilitas militer di darat sudah tidak berfungsi lagi maka pesawat akan menjadi pusat komando lintas udara, di mana pemimpin negara atau presiden bisa melakukan koordinasi serangan, termasuk peluncuran rudal nuklir.

AS misalnya, yang telah memiliki pesawat kiamat sejak 1961, tepatnya 3 Februari, bernama Boeing 747-200 EC-135C Looking Glass. Nama Looking Glass, nama lain untuk cermin, dipilih karena berfungsi sebagai komando dan pengendali pos komando di pangkalan udara di bawah Markas Pusat Komando Udara Strategis Angkatan Udara (AU) AS atau USAF.

Pesawat ini khusus dipersiapkan AU AS selama Perang Dingin untuk menghadapi Uni Soviet, sekarang Rusia. Boeing EC-135C Looking Glass juga dimodifikasi untuk mampu mengudara selama 24 jam sehari.

Untuk menghindari ancaman musuh dari gangguan sinyal, Boeing EC-135C Looking Glass dilengkapi dengan antena frekuensi tinggi yang terletak di sayap. Bersama dengan Airborne Emergency Action Officer (AEAO), seorang kru yang terdiri dari sekitar 15-20 penerbang akan menjadi pos tersendiri selama beberapa jam sehari.

Perang Dingin berakhir dan masa tugas Boeing EC-135C Looking Glass ikut terhenti pada 1 Oktober 1998. Pesawat kiamat itu kemudian diganti oleh Boeing 707 E-6B Mercury, yang kali ini di bawah kendali Angkatan Laut (AL) AS.

Kemampuan pesawat kiamat ini tidak hanya dirancang untuk bisa bertahan dari dampak hantaman elektromagnetik yang berasal dari ledakan bom nuklir di bawahnya, tetapi juga bisa menggunakan sistem komunikasi berfrekuensi rendah.

Hal ini membuat para pemimpin AL AS bisa berkomunikasi dengan kapal selam di lautan yang membawa senjata nuklir. 

Selain itu pesawat ini juga bisa memiliki sistem kendali rudal jarak jauh. Ini berarti para pemimpin militer AS bisa meluncurkan rudal antarbenua dari Boeing E-6B Mercury.

Lalu Rusia. Negara yang dahulu bernama Uni Soviet itu patut bangga dengan kehadiran Ilyushin Il-80 Maxdome. Pusat Komando Udara Strategis milik AU Rusia tersebut merupakan modifikasi dari pesawat jet berbadan lebar Il-86, dan telah berhasil menyelesaikan pengujian dan siap beroperasi pada 2015.

Il-80 Maxdome tidak memiliki fitur jendela selain kaca depan kokpit dan dilengkapi dengan kubah dan antena yang dimaksudkan untuk memblokir EMP, sinyal RF, dan untuk melindungi terhadap ledakan nuklir sambil memastikan kemampuan untuk berkomunikasi dengan aset lainnya termasuk kapal selam rudal balistik ketika infrastruktur dasar yang rusak berat atau hancur.

Pada Agustus 2016, United Aircraft Corporation (UAC) Rusia juga telah selesai memodifikasi pesawat Il-96-400 menjadi doomsday plane dan menyerahkannya ke Kementerian Pertahanan Rusia.

Pesawat kiamat generasi ketiga ini dirancang berdasarkan pesawat penumpang berbadan lebar Il-96-300 yang dapat mengangkut 300 orang penumpang. Il-96-400 memiliki empat mesin dan dilengkapi dengan perangkat aviasi canggih terbaru. Bobot pesawat mencapai 270 ton dan ia mampu menjangkau wilayah hingga 12 ribu kilometer.

B3eFmaster
B3eFmaster CYBER